Peter Schmeichel Heran MU Lepas Rasmus Hojlund ke Napoli: “Ia Cuma Butuh Servis yang Tepat!”
Rasmus Hojlund kembali menunjukkan kualitasnya sebagai penyerang tajam setelah dipinjamkan oleh Manchester United ke Napoli pada awal musim 2025/2026. Sejak bergabung dengan Partenopei, Hojlund sudah mencetak empat gol dalam enam pertandingan, menjadikannya sebagai salah satu pemain andalan di lini depan Napoli.
Performa impresif ini kontras dengan masa-masa sulit yang ia alami di Old Trafford, di mana ia kesulitan mencetak gol secara konsisten. Kebangkitan Hojlund di Napoli mengundang pertanyaan besar terkait keputusan Manchester United untuk meminjamkan striker muda berbakat ini. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah MU terlalu cepat menyerah padanya, termasuk legenda klub, Peter Schmeichel.
Schmeichel: “Hojlund Hanya Butuh Kesempatan”
Peter Schmeichel, yang dikenal sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dalam sejarah Manchester United, tidak segan-segan menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan klub untuk melepas Hojlund. Menurut Schmeichel, Hojlund seharusnya menjadi aset penting bagi MU, bukan hanya dipinjamkan ke tim lain. Ia percaya bahwa masalah utama Hojlund di Manchester United bukanlah kualitas atau mentalitasnya, melainkan kurangnya dukungan dan kesempatan untuk berkembang dalam sistem yang tepat.
“Saya merasa keputusan untuk mendatangkan Benjamin Sesko agak aneh, karena kami sudah punya Rasmus Hojlund yang kehilangan kesempatan bermain selama dua tahun,” ungkap Schmeichel dalam podcast BBC’s Sacked in the Morning. “Hojlund punya potensi besar untuk menjadi penyerang kelas dunia jika diberi kepercayaan dan lingkungan yang mendukung.”
Schmeichel juga menyoroti betapa Napoli berhasil mengoptimalkan potensi Hojlund dengan gaya bermain menyerang yang mereka terapkan. Di bawah pelatih Antonio Conte, Hojlund terlihat lebih bebas, lebih percaya diri, dan lebih sering menerima bola berkualitas yang memberinya peluang untuk mencetak gol.
Performa Hojlund di Napoli: Kebangkitan yang Menggugah
Di Napoli, Hojlund mulai menunjukkan kemampuannya dengan mencetak gol-gol penting, salah satunya dalam laga Liga Champions melawan Sporting. Gaya permainan menyerang yang diterapkan oleh Conte, yang didukung oleh pemain-pemain kreatif seperti Kevin De Bruyne dan Scott McTominay, memberikan Hojlund kesempatan untuk berkembang lebih pesat.
“Anda hanya perlu melihat apa yang ia lakukan di Napoli bersama McTominay dan De Bruyne. Ia mencetak banyak gol,” tambah Schmeichel. Kembali ke performa Hojlund yang menonjol di Napoli, pertanyaan besar pun muncul: mengapa Manchester United tidak memberikan dukungan yang sama untuknya?
Hojlund Butuh Servis, Bukan Kekurangan Kualitas
Schmeichel menegaskan bahwa Hojlund sebenarnya tidak kekurangan kualitas. Permasalahan utamanya adalah kurangnya servis dan dukungan dari tim. Manchester United, yang sering kali mengalami ketidakstabilan dalam hal sistem permainan, tidak memberi Hojlund cukup peluang untuk menunjukkan kemampuannya.
“Saya sudah konsisten mengatakan ini selama dua setengah tahun. Rasmus Hojlund akan menjadi striker dengan 25 gol per tahun untuk Manchester United, tetapi ia membutuhkan dukungan,” jelas Schmeichel. Menurutnya, keputusan MU untuk mendatangkan pemain seperti Benjamin Sesko, Matheus Cunha, dan Bryan Mbuemo justru semakin memperburuk situasi, karena semakin mengurangi peran Hojlund di dalam tim.
“Keputusan untuk melepasnya, dengan statistik yang menyebutkan ia hanya mencetak sedikit gol musim lalu, dan kemudian mendatangkan Sesko serta membeli Cunha dan Mbuemo, justru memperburuk kondisi. Seharusnya mereka memberikan Hojlund dukungan kelas satu,” tegas Schmeichel.
Apa yang Dapat Dipelajari dari Keputusan MU?
Dengan melihat kembalinya Hojlund ke performa terbaiknya di Napoli, kritik yang dilontarkan oleh Schmeichel semakin terasa relevan. Hojlund membuktikan bahwa ia bukanlah penyerang yang mandul, melainkan hanya membutuhkan servis yang tepat untuk mengeluarkan potensi maksimalnya. Manchester United, yang kini tengah berusaha untuk mencari penyerang baru, mungkin perlu mempertimbangkan kembali keputusan mereka terkait masa depan Hojlund.
Sementara itu, di Napoli, Hojlund terus mengukir prestasi dan mengingatkan publik bahwa talenta muda seperti dirinya hanya membutuhkan kesempatan dan sistem yang mendukung untuk berkembang menjadi pemain top. Kini, tinggal melihat apakah MU akan belajar dari keputusan ini dalam merancang strategi pengembangan pemain mereka di masa depan.
Dengan kebangkitan Rasmus Hojlund di Napoli, masa depannya di Manchester United semakin menjadi perbincangan hangat. Apakah MU akan menyesali keputusannya atau justru melihat ini sebagai pelajaran berharga untuk manajemen tim ke depan? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.